Menu

Cara Bagi Hasil Investasi Syariah

Apr
26
2018
by : .. Posted in : Blog

Cara Bagi Hasil Investasi Syariah Bagaimana Cara Pembagian Keuntungan Menurut Syariah Islam ? Kapankah pembagian keuntungan dikira benar?Apakah bisa entrepreneur mengambil jatah perbulan dari usahanya?Bagaimana pemecahannya supaya entrepreneur yg tidak mempunyai pekerjaan sambilan terkecuali usaha itu dapat memperoleh duit bulanan untuk hidupnya? Ini menjadi sebuah obrolan yang sangat menarik untuk segi keilmuan :





Slide1 perencanaankeuangan





Pembagian Keuntungan Investasi Sesuai Syariat

Cara pembagian keuntungan investasi menurut Syariat Islam, antara pemodal dan pebisnis, kita sebagai umat muslim mengenal pembagian menurut Syariat Islam dengan azas [ AL – MUDHARABAH ], artinye bagi hasil. Dimana pembagian hasil tersebut mengacu pada prinsif saling menguntungkan, jadi tidak ada niatan untuk saling mendzalimi antara investor dengan pengusaha tersebut. Beberapa ulama mensyaratkan tiga prasyarat dalam pembagian keuntungan 1. Mesti ada pemberitahuan kalau modal yang di keluarkan yaitu untuk untuk hasil keuntungan, bukanlah ditujukan untuk utang saja. 2. Mesti diprosentasekan keuntungan untuk investor serta pengusaha Keuntungan yang didapat harus juga terang, contoh untuk investor 40% serta entrepreneur 60%, 50% – 50%, 60% – 40%, 5 persen – 95% atau 95% – 5%. Hal semacam ini mesti diputuskan dari pertama akad. Tak diperbolehkan membagi keuntungan 0% – 100% atau 100% – 0%. Besar prosentase keuntungan yaitu bebas, bergantung perjanjian pada ke-2 iris pihak.





Money Mnagement Menurut Syariat

Bagaimana pemecahannya supaya entrepreneur yg tidak mempunyai pekerjaan sambilan terkecuali usaha itu dapat memperoleh duit bulanan untuk hidupnya? Jika entrepreneur berhutang pada simpanan usaha itu sebesar Rp 3 juta/bln., umpamanya, serta hal itu di setujui oleh investor, jadi hal itu diperbolehkan. Hutang itu mesti dibayar. Hutang itu dapat dibayar dari hasil keuntungan nanti. Jika entrepreneur berhutang Rp 10 juta, umpamanya, serta nyatanya pembagian keuntungannya dia memperoleh Rp 15 juta, jadi Rp 15 juta segera dipakai untuk membayar hutangnya Rp 10 juta. Serta entrepreneur memiliki hak memperoleh Rp 5 juta bekasnya. Walau demikian, bila ternyata pembagian keuntungannya cuma Rp 8 juta, bermakna hutang entrepreneur belum terbayar semuanya. Entrepreneur masihlah berhutang Rp 2 juta pada investor. Serta yang butuh di perhatikan serta diutamakan pada tulisan ini, dalam Al-Mudharabah, keuntungan diperoleh dari prosentase keuntungan bersih serta tidak dari modal. Mengenai yang diaplikasikan di bebrapa instansi keuangan atau perusahan-perusahaan yang menerbitkan saham, keuntungan usaha diperoleh dari modal yang di keluarkan, serta modal yang diinvestasikan dapat di pastikan keamanannya serta tak ada kemungkinan kerugian, jadi terang sekali ini yaitu riba. Sesudah membaca paparan diatas, pasti kita bakal tahu hikmah yang begitu besar didalam syariat kita. Bagaimana syariat kita mengatur supaya jangan pernah berlangsung kezaliman pada entrepreneur dengan investor, jangan pernah berlangsung riba serta jangan pernah perekonomian Islam melemah hingga bergantung dengan beberapa orang kafir. Cobalah kita pikirkan bila semua usaha baik kecil ataupun besar mengaplikasikan system untuk hasil ini, jadi ini bakal jadi jalan keluar yang begitu hebat supaya terlepas dari beragam jenis riba yang telah membudaya di orang-orang kita. Ini dapat jadi jalan keluar untuk beberapa orang yg tidak mempunyai modal hingga dapat mempunyai usaha mandiri serta ini dapat jadi jalan keluar untuk beberapa orang yg tidak mempunyai pekerjaan, hingga dapat buka lapangan pekerjaan untuk orang-orang. Itulah paparan tentang bagaimana cara pembagian keuntungan investasi usaha menurut Suyariat Islam ini, semoga bermanfaat dan barokah.





Inilah garis besar permasalahan dalam Al-Mudharabah.

Dan selanjutnya akan penulis rinci satu persatu. A. Investor dan Pengusaha Investor dan pengusaha adalah orang-orang yang diperbolehkan di dalam syariat untuk menggunakan harta dan bukan orang yang dilarang dalam menggunakan harta, seperti: orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz, orang yang dibatasi penggunaan hartanya oleh pengadilan dan lain-lain. Anak yang belum baligh tetapi sudah mumayyiz boleh menjadi investor atau pengusaha, meskipun ada perselisihan pendapat dalam hal ini. B. Akad Akad Al-Mudharabah membutuhkan kejelasan dari kedua belah pihak. Dan kejelasan tersebut tidak diketahui kecuali dengan lafaz atau tulisan. Oleh karena itu, ijab-qabul (serah terima) modal, harus terpenuhi hal-hal berikut: – Adanya kesepakatan jenis usaha – Adanya keridhaan dari kedua belah pihak – Diucapkan atau ditulis dengan lafaz yang jelas dan bisa mewakili keinginan investor maupun pengusaha Karena akad ini adalah akad kepercayaan, maka sebaiknya akad tersebut tertulis dan disaksikan oleh orang lain. Apalagi di zaman sekarang ini, banyak orang yang melalaikan amanat yang telah dipercayakan kepadanya. C. Modal Para ulama mensyaratkan empat syarat agar harta bisa menjadi modal usaha. Keempat syarat tersebut yaitu: – Harus berupa uang atau barang-barang yang bisa dinilai dengan uang Para ulama berijma’ bahwa yang dijadikan modal usaha adalah uang. Tetapi mereka berselisih pendapat tentang kebolehan menggunakan barang-barang yang dinilai dengan uang. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan hal tersebut diperbolehkan. Karena sebagian orang tidak memiliki uang dan sebagian lagi hanya memiliki barang, padahal barang tersebut di dalam usaha juga sangat dibutuhkan sehingga harus mengeluarkan uang untuk mengadakannya. Sebagai contoh adalah ruko (rumah toko). Ruko di tempat yang strategis sangat prospek untuk membuka lahan usaha. Ruko tersebut dihitung harga sewanya, misalkan, satu tahun sebesar Rp 40 juta, maka secara akad dia berhak memiliki saham senilai Rp 40 juta. – Harus nyata ada dan bukan hutang Seorang investor tidak boleh mengatakan, “Saya berinvestasi kepadamu Rp 10 juta tetapi itu hutang saya dan nanti saya bayar.” – Harus diketahui nilai harta tersebut Modal yang dikeluarkan harus diketahui nilainya dan tidak boleh mengambang. Misalkan ada seseorang berinvestasi Rp 100 juta, yang lain berinvestasi 1000 sak semen dan yang lain berinvestasi batu bata 100 ribu bata, maka semuanya harus dinominalkan dulu dengan uang. Misalkan 1000 sak semen dihargai dengan Rp 80 juta. Dan 100 ribu bata dengan Rp 70 juta. Sehingga diketahui perbandingan masing-masing modal yang dikeluarkan oleh investor agar bisa dibagi secara adil ketika mendapatkan keuntungan. – Harus diserahkan kepada pengusaha Modal dari investor harus diserahkan kepada pengusaha, sehingga modal tersebut bisa diusahakan. Modal tersebut tidak boleh ditahan oleh investor. D. Jenis Usaha Tidak ada pembatasan jenis usaha di dalam Al-Mudharabah. Al-Mudharabah bisa terjadi pada perdagangan, eksploitasi hasil bumi, properti, jasa dan lain-lain. Yang paling penting usaha tersebut adalah usaha yang halal menurut syariat Islam. E. Keuntungan Para ulama mensyaratkan tiga syarat dalam pembagian keuntungan – Harus ada pemberitahuan bahwa modal yang dikeluarkan adalah untuk bagi hasil keuntungan, bukan dimaksudkan untuk pinjaman saja. – Harus diprosentasekan keuntungan untuk investor dan pengusaha Keuntungan yang diperoleh juga harus jelas, misal untuk investor 40% dan pengusaha 60%, 50% – 50%, 60% – 40%, 5 % – 95% atau 95% – 5%. Hal ini harus ditetapkan dari awal akad. Tidak diperkenankan membagi keuntungan 0% – 100% atau 100% – 0%. Besar prosentase keuntungan adalah bebas, tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak.
klikaja

artikel lainnya Cara Bagi Hasil Investasi Syariah

Wednesday 28 June 2017 | Blog

Prinsip dasar investasi properti adalah kenaikan harga tanah dan atau bangunan akan selalu meningkat setiap tahunnya.…

Monday 19 February 2018 | Blog

KAYAMARA Turut Mendukung Pengajian di Masjid Hidayatullah Kentingan Solo, Pengajian dalam bahasa Arab disebut At-ta’llimu asal…

Sunday 5 June 2016 | Blog

Batik Pekalongan di tangan generasi muda semakin melejit permintaanya. Sadar akan pentingnya regenerasi, sebagian anak muda…

Monday 22 January 2018 | Blog, Investasi

Program kerjasama ini adalah medel bagi hasil yang ditetapkan berdasar kemampuan perusahaan dalam memberikan laba dan…

iklankayamaraadvertising
Head Office: Jl. Salak 5 No. 125 RT. 4/19 Ngringo, Jaten, Karanganyar, 57772
0271-8202839
085647595948
085725072225
cintakayamara@gmail.com